Menuju Senja

Sebagaimana perjalanan menuju senja, hidup ialah tentang pertemuan dan perpisahan. Namun tenang saja, setelahnya selalu ada Fajar dengan harapan baru.

Thursday, 27 July 2017

ASAL KAU BAHAGIA




Katakanlah sekarang bahwa kau tak bahagia
Aku punya ragamu tapi tidak hatimu..
            Aku bermimpi agar terus bisa mencintaimu, Nay. Seperti bulan mencintai malam. Sebagaimana ombak mencintai laut. Sebagaimana apa pun di dunia ini yang memilih tulus mencintai. Tentang duka yang kau lipat dari angka-angka menjadi origami yang lucu-lucu, aku suka caramu menyikapi sesuatu, manis dan mengagumkan. Pada akhirnya, aku ingin engkau tersenyum. Menikmati rekah matahari yang terbit sempurna di sebelah timur.

            Ingatkah engkau bagaimana pertemuan pertama kita? Aku memang beberapa kali mendengar namamu dari beberapa teman di kelasku. Entah bagaimana caranya, pagi itu kau masuk ke dalam kelasku dengan pakaian lebar. Ujung jilbabmu melayang-layang tertiup angin. Tak butuh waktu lama, aku bisa dengan mudah jatuh cinta dengan caramu memakai jilbab. Hey, kenapa tiba-tiba aku jadi suka memperhatikan jilbabmu. Apa-apaan ini!!--pikirku dalam hati. Kau mendapat amanah dari dosen untuk mencocokan absen dengan nama-nama kami sekelas. Kau memperkenalkan diri.
            “Oh, jadi ini namanya Nayla,” cetusku tak sengaja. Seisi kelas memperhatikanku—tak terkecuali kamu. Kamu tersenyum. Senyummu yang pertama.
            Ah, kita memang dipertemukan dengan serangaian-serangkain peristiwa kebetulan, Nay. Dan cinta, kurasa juga kebetulan. Peristiwa kebetulan yang pada akhirnya aku yang harus menanggung sakit yang kubuat sendiri. Perihal mencintai, tidak ada sesuatu yang lebih menyakitkan dari cinta tak berbalas, bukan? Cinta itu memang datang dengan sendirinya. Tanpa perkiraan dan dugaan sebelumnya. Kamu memang orang yang membuatku merasakan jatuh cinta lebih lama.
            Kita memiliki banyak persamaan juga perbedaan yang saling melengkapi. Kita sama-sama menyukai es krim, misalnya. Golongan darahmu O dan golongan darahku B. Ketika marah, kamu cenderung menyimpannya baik-baik dariku. Sedangkan aku, ketika marah aku tidak bisa menyembunyikannya darimu. Tapi kamu selalu sukses menenangkanku. Ah, golongan darah O yang sempurna. Kita memiliki persamaan sekaligus perbedaan yang saling melengkapi, bukan?
            Hey, sejak jatuh cinta padamu, aku juga jadi suka menulis puisi.
Apa kurangnya aku di dalam hidupmu
Hingga kau curangi aku..
            Hari-hari kita lalui dengan sempurna. Kamu adalah puisi yang tidak pernah habis kupuisikan. Dan dengan senang hati kamu menerima puisi-puisiku. Katamu, puisi membuat cinta semakin hidup. Kita saling melempar rindu ketika berjauhan. Katamu, dalam cinta yang berjarak, ‘rindu’ adalah kata yang tabu untuk diungkapkan. Hey, tapi dengan senang hati kita menikmatinya setiap hari.
            Hingga pada suatu hari, aku merasakan ada yang berubah dari sikapmu. Aku mendapatimu seperti orang lain di kehidupanku. Kau seperti tidak peduli dengan apa-apa yang kutuliskan untukmu. Hanya karena tidak ingin berprasangka buruk kepadamu, aku mencoba memakluminya.
            Suatu ketika, kamu mengatakan sesuatu kepadaku. Kamu meminta maaf. Katamu, tidak seharusnya kamu melakukan itu. Belakangan ini kamu sedang dekat dengan seseorang. Dia orang yang kamu kagumi. Tampan, pandai bermain musik. Selalu ada untuk kamu dan juga lebih care dibanding aku.
            Selepas pertemuan terakhir itu, kita tidak lagi sedekat dulu. Semua yang ada padamu seolah menghantuiku. Semakin aku berusaha menjauh dan melupakanmu, semakin bayang-bayangmu terasa semakin dekat. Menghujam seluruh ingatanku tentangmu.
            Maka, Nay, aku ingin berdamai denganmu. Aku ingin berdamai dengan hatiku. Sebab, dengan menyimpan dendam padamu hanya akan membuat pikiranku lelah, hatiku patah, hidupku tidak terarah. Aku ingin semua tersenyum. Pikiran dan hatiku menemukan arahnya kembali. Nay, aku yakin, satu-satunya cara berdamai dengan rasa sakit ialah dengan merelakan. Maka Nay, dengan sepenuh hati aku merelakanmu dengan pilihanmu. Semoga kau bahagia dengannya.
Kurela kau dengannya
Asalakan kau bahagia..
            Nay, aku tidak bisa mengatakan kamu salah. Aku tidak bisa mengatakan bahwa kamu tidak baik. Aku juga tidak dapat memastikan bahwa kamu akan menyesal. Sebab itulah pilihanmu. Itulah jalan pencarianmu.
            Nay, percayalah, akan selalu datang yang lebih tampan dan lebih sempurna. Jika hanya memandang kesempurnaan, bagaimana nasibku yang hanya menawarkan kesederhanaan?
Yang kemarin ku melihatmu
Kau bertemu dengannya
Kurasa sekarang kau masih
Memikirkan tentang dia
Apa kurangnya aku di dalam hidupmu
Hingga kau curangi aku
Katakanlah sekarang bahwa kau tak bahagia
Aku punya ragamu tapi tidak hatimu
Kau tak perlu berbohong
Kau masih mengingkannya
Kurela kau dengannya
Asalkan kau bahagia
Katakanlah sekarang bahwa kau tak bahagia

            Hey, entah mengapa akhir-akhir ini aku jadi suka lagu ini. Nayla!!

*Terinspirasi dari lagu Armada, dengan judul yang sama.

No comments: