Katakanlah
sekarang bahwa kau tak bahagia
Aku
punya ragamu tapi tidak hatimu..
Aku bermimpi agar terus bisa
mencintaimu, Nay. Seperti bulan mencintai malam. Sebagaimana ombak mencintai
laut. Sebagaimana apa pun di dunia ini yang memilih tulus mencintai. Tentang
duka yang kau lipat dari angka-angka menjadi origami yang lucu-lucu, aku suka
caramu menyikapi sesuatu, manis dan mengagumkan. Pada akhirnya, aku ingin
engkau tersenyum. Menikmati rekah matahari yang terbit sempurna di sebelah timur.
Ingatkah engkau bagaimana pertemuan
pertama kita? Aku memang beberapa kali mendengar namamu dari beberapa teman di
kelasku. Entah bagaimana caranya, pagi itu kau masuk ke dalam kelasku dengan
pakaian lebar. Ujung jilbabmu melayang-layang tertiup angin. Tak butuh waktu
lama, aku bisa dengan mudah jatuh cinta dengan caramu memakai jilbab. Hey,
kenapa tiba-tiba aku jadi suka memperhatikan jilbabmu. Apa-apaan ini!!--pikirku dalam hati. Kau mendapat amanah
dari dosen untuk mencocokan absen dengan nama-nama kami sekelas. Kau
memperkenalkan diri.
“Oh, jadi ini namanya Nayla,”
cetusku tak sengaja. Seisi kelas memperhatikanku—tak terkecuali kamu. Kamu
tersenyum. Senyummu yang pertama.
Ah, kita memang dipertemukan dengan
serangaian-serangkain peristiwa kebetulan, Nay. Dan cinta, kurasa juga
kebetulan. Peristiwa kebetulan yang pada akhirnya aku yang harus menanggung
sakit yang kubuat sendiri. Perihal mencintai, tidak ada sesuatu yang lebih
menyakitkan dari cinta tak berbalas, bukan? Cinta itu memang datang dengan sendirinya.
Tanpa perkiraan dan dugaan sebelumnya. Kamu memang orang yang membuatku
merasakan jatuh cinta lebih lama.
Kita memiliki banyak persamaan juga
perbedaan yang saling melengkapi. Kita sama-sama menyukai es krim, misalnya.
Golongan darahmu O dan golongan darahku B. Ketika marah, kamu cenderung
menyimpannya baik-baik dariku. Sedangkan aku, ketika marah aku tidak bisa
menyembunyikannya darimu. Tapi kamu selalu sukses menenangkanku. Ah, golongan
darah O yang sempurna. Kita memiliki persamaan sekaligus perbedaan yang saling
melengkapi, bukan?
Hey, sejak jatuh cinta padamu, aku juga
jadi suka menulis puisi.
Apa
kurangnya aku di dalam hidupmu
Hingga
kau curangi aku..
Hari-hari kita lalui dengan
sempurna. Kamu adalah puisi yang tidak pernah habis kupuisikan. Dan dengan
senang hati kamu menerima puisi-puisiku. Katamu, puisi membuat cinta semakin
hidup. Kita saling melempar rindu ketika berjauhan. Katamu, dalam cinta yang
berjarak, ‘rindu’ adalah kata yang tabu untuk diungkapkan. Hey, tapi dengan senang
hati kita menikmatinya setiap hari.
Hingga pada suatu hari, aku
merasakan ada yang berubah dari sikapmu. Aku mendapatimu seperti orang lain di
kehidupanku. Kau seperti tidak peduli dengan apa-apa yang kutuliskan untukmu.
Hanya karena tidak ingin berprasangka buruk kepadamu, aku mencoba memakluminya.
Suatu ketika, kamu mengatakan
sesuatu kepadaku. Kamu meminta maaf. Katamu, tidak seharusnya kamu melakukan
itu. Belakangan ini kamu sedang dekat dengan seseorang. Dia orang yang kamu
kagumi. Tampan, pandai bermain musik. Selalu ada untuk kamu dan juga lebih care dibanding aku.
Selepas pertemuan terakhir itu, kita
tidak lagi sedekat dulu. Semua yang ada padamu seolah menghantuiku. Semakin aku
berusaha menjauh dan melupakanmu, semakin bayang-bayangmu terasa semakin dekat.
Menghujam seluruh ingatanku tentangmu.
Maka, Nay, aku ingin berdamai
denganmu. Aku ingin berdamai dengan hatiku. Sebab, dengan menyimpan dendam
padamu hanya akan membuat pikiranku lelah, hatiku patah, hidupku tidak terarah.
Aku ingin semua tersenyum. Pikiran dan hatiku menemukan arahnya kembali. Nay,
aku yakin, satu-satunya cara berdamai dengan rasa sakit ialah dengan merelakan.
Maka Nay, dengan sepenuh hati aku merelakanmu dengan pilihanmu. Semoga kau
bahagia dengannya.
Kurela
kau dengannya
Asalakan
kau bahagia..
Nay, aku tidak bisa mengatakan kamu
salah. Aku tidak bisa mengatakan bahwa kamu tidak baik. Aku juga tidak dapat
memastikan bahwa kamu akan menyesal. Sebab itulah pilihanmu. Itulah jalan
pencarianmu.
Nay, percayalah, akan selalu datang
yang lebih tampan dan lebih sempurna. Jika hanya memandang kesempurnaan,
bagaimana nasibku yang hanya menawarkan kesederhanaan?
Yang
kemarin ku melihatmu
Kau
bertemu dengannya
Kurasa
sekarang kau masih
Memikirkan
tentang dia
Apa
kurangnya aku di dalam hidupmu
Hingga
kau curangi aku
Katakanlah
sekarang bahwa kau tak bahagia
Aku
punya ragamu tapi tidak hatimu
Kau
tak perlu berbohong
Kau
masih mengingkannya
Kurela
kau dengannya
Asalkan
kau bahagia
Katakanlah
sekarang bahwa kau tak bahagia
Hey, entah mengapa akhir-akhir ini
aku jadi suka lagu ini. Nayla!!
*Terinspirasi
dari lagu Armada, dengan judul yang sama.
No comments:
Post a Comment