: Kepadamu, yang kudekap dalam puisi
Setiap pagi adalah sepotong nyanyian
yang hidup di balik
jaket merahmu.
Aku adalah nada penghabisan
yang memberimu mentera
tak seorang pun melihatnya.
Sebab, hanya ada dua pilihan
Satu: Kau mencintaiku, atau
Dua: Aku yang lebih mencintaimu?
Meski luka dan kehilangan
siap membidik
kapan saja.
Dari badai yang pecah menampar wajah
bisikan rumput liar terdengar samar
kutanam percayaku, pada manis
wajah menawanmu.
Pada sejuta sihir di dalam puisimu
yang membuatku berhenti mencari.
Kita pernah gelisah, juga cemas
sebab rasa menghampiri - membisu nurani
agar kamu selalu ada
atau aku selalu ada
untuk sekedar
jadi yang paling awal,
pada pagi milik kita.
seperti rindu kita
yang akan menjadi sendu paling kuat
dan setelah itu, boleh jadi
kita sekekal abad.
-(2016).
Picture source by Pinterest.com
No comments:
Post a Comment