Apa
kabarmu? Setelah ratusan senja memisahkan kita tanpa perjumpaan. Dua tiga
kenangan tentu terlewatkan begitu saja. Menyisakan pilu yang mengharu biru.
Diam dan membisu. “Biarlah berlalu,.” Kataku, pada diriku yang lainnya: Semacam
dialog dalam diri sendiri.
Ada
yang tak sempat tergambarkan, oleh kata ketika kita berdua. Hanya aku
yang bisa bertanya, mungkinkah kau tahu jawabnya. Malam jadi saksinya aku yang
berharap waktu membawa keberanian untuk datang membawa jawaban.
Bagiku, kafe kecil setelah kelokan,
empat ratus meter dari kampus itu selalu istimewa. Bukan karena bangunannya
yang sederhana dan elegan atau karena tempatnya yang nyaman. Tapi karena
disanalah, satu-satunya tempat yang terasa begitu dekat denganmu. Saking
dekatnya seolah mampu kusentuh dengan ujung jemariku.
Dan
melewatinya saja sudah cukup membahagiakan bagiku. Sama membahagiakannya
seperti ketika kujumpa sosok nyatamu.
Satu hal yang membuatku tak bisa berhenti tersenyum. Di tempat itu aku suka
melakukan hal-hal apa saja.
Siang
itu sebuah pesan masuk ke ponselku. “Hei, aku sedang berada di kotamu,” katamu.
“Oya,”
kataku mengkonfirmasi. Singkat. Padahal bahagia bukan main.
“Mari
bertemu,” katamu. Sebuah emoticon senyum mengakhiri pesanmu kali ini. Dan kau
tahu bagaimana ekspresiku kala itu? Luar biasa. Aku lupa kapan terakhir kali
merasa sebahagia itu.
Kita
berbincang tentang apa-apa saja. Meski awalnya canggung, aku bisa memulainya
dengan baik. Tidak begitu buruk, meski tanpa persiapan.
Aku
tidak ingin terlihat gugup di depanmu. Semampu yang kubisa, aku menyembunyikan
perasaan gugup darimu. Kadang waktu aku mengetuk-ngetuk ujung meja dengan
jemariku sendiri. Sembari mencari-cari topik pembicaraan apa lagi yang harus
aku mulai ketika kau mengakhiri jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku.
Suatu
waktu, mata kita bertemu. Cepat-cepat aku mengalihkan pandangan, ke gelas
minuman yang kau pesan: tetesan-tetasan cairan es yang mengembun mulai
membasahi bagian luar gelas itu. Kau tahu, cuaca panas siang itu tak pernah
sesejuk yang kurasa. Bagai es yang mendinginkan gelas, hatiku menyejukan
perasaan lainnya. Menjalar ke seluruh tubuh. Menciptakan apa-apa saja yang baik dariku, hingga berakhir menjadi
selengkung senyum di bibirku.
Beberapa
detik kita diam. Kau mengalihkan pandangan ke arah lain, aku mengalihkan
pandangan ke arah lainnya juga: Sebongkah es membeku dalam pikiran kita
masing-masing.
Suatu
waktu, entah siapa yang memulai topik pembicaraan, aku tidak begitu
mengingatnya. Kita mulai membuka pembicaraan: mencairkan es dalam pikiran kita.
Aku
suka topik-topik pembicaraan kita. Apa-apa saja. kau menceritakan tentang
betapa menyenangkannya kuliah di negeri seberang. Tentang asrama dan kampus
yang tidak begitu jauh dan kau menempuhnya dengan berjalan kaki. Meski dekat,
cukup membuat kakimu pegal; katamu. Juga tentang beberapa kebijakan kampus yang
ternyata tidak jauh berbeda dengan kampusku. Sesekali aku menanggapinya dengan
bercanda. Dan jujur saja, baru kali ini aku serius dalam bercanda. Benar-benar
serius untuk terdengar lucu. Kemudian kau menanggapinya dengan sebuah senyum.
Sebuah gingsul menyembul. Manis sekali.
Barangkali
diantara pembicaraan-pembicaraan kita siang itu, topik paling seru adalah
pembicaraan tentang buku. Kau bercerita tentang sebuah buku yang katamu paling
berkesan, dan entah kebetulan apalagi yang mempertemukan kita, buku itu juga
buku favoritku. Maka berkelanalah kita pada kisah-kisah dalam cerita buku itu.
Kita mendiskusikannya dengan serius. Dan aku selalu suka dengan caramu
menceritakan sesuatu, meski tidak selalu mengerti, aku bahagia saja. Kemudian
pada akhir cerita kita selalu mengakhirinya dengan sebuah candaan-candaan
kecil. Seandainya cerita itu benar-benar ada dan kita menjalaninya, mungkin
akan membahagian ya, katamu. Aku mengangguk mengkonfirmasi.
“Mungkin
ini kali terakhirku berkunjung ke kota ini,” katamu memotong topik pembicaraan
kita. Aku tidak menjawab. Menunggu kau melanjutkan cerita lainnya.
“Aku
akan pindah ke kota seberang. Ayahku bertugas disana, kami sekeluarga akan
pindah.” Katamu dengan wajah sedih. Aku tahu ini pasti berat untukmu,
meninggalkan kota tempat kau lahir dan dibesarkan. Namun, tahu kah engkau, ada
yang lebih bersedih dibanding dirimu. Ya, akulah orangnya. Tak sepatah kata pun
mampu kuucapkan.
Aku
sedih. Tentu saja! ini akan menjadi pertemuan kita yang pertama sekaligus yang
terakhir kali. Mengapa sesuatu yang membahagiakan selalu berlangsung sangat
singkat? Mengapa kebahagian dan kehidupan seringkali tidak berpihak kepada
kita? Aku tidak ingin menangis di
depanmu. Kau tahu, menangis bukan cara laki-laki tangguh untuk bersedih. Dan
kau tahu, saat itu aku menangis, meski dalam hati.
Aku
tersenyum menanggapinya. Bukan untuk menguatkanmu. Tapi menguatkan hatiku
sendiri. Tidak apa-apa, barangkali jalan memang menuntun kita pada sebuah
peristiwa semacam ini. Lagipula aku yakin, takdir akan mempermukan kita pada
keadaan bahagia lainnya.
Dan
kelak, kita tidak akan menghitung-hitung lagi rindu siapa yang paling banyak
mengetuk pintu langit dalam bentuk doa-doa.
Selamat
berbahagia. Semoga kita berjumpa lagi. Tentu saja!
:Nyatanya standar bahagiaku hanyalah
sesederhana itu. Sekedar melihat dan mengingat hal-hal kecil tentangmu.
Mengulang-ulang rekaman memori yang kupunya tentangmu. Ya. Begitu saja sudah
membahagiakanku. Cukup membahagiakan!
2 comments:
semoga berbahagia, kamu yang disana T_T
Duuh, dalem banget. Haha
Post a Comment