Menuju Senja

Sebagaimana perjalanan menuju senja, hidup ialah tentang pertemuan dan perpisahan. Namun tenang saja, setelahnya selalu ada Fajar dengan harapan baru.

Thursday, 17 May 2018

Standar Bahagia





Apa kabarmu? Setelah ratusan senja memisahkan kita tanpa perjumpaan. Dua tiga kenangan tentu terlewatkan begitu saja. Menyisakan pilu yang mengharu biru. Diam dan membisu. “Biarlah berlalu,.” Kataku, pada diriku yang lainnya: Semacam dialog dalam diri sendiri.

            Ada  yang tak sempat tergambarkan, oleh kata ketika kita berdua. Hanya aku yang bisa bertanya, mungkinkah kau tahu jawabnya. Malam jadi saksinya aku yang berharap waktu membawa keberanian untuk datang membawa jawaban.
            Bagiku, kafe kecil setelah kelokan, empat ratus meter dari kampus itu selalu istimewa. Bukan karena bangunannya yang sederhana dan elegan atau karena tempatnya yang nyaman. Tapi karena disanalah, satu-satunya tempat yang terasa begitu dekat denganmu. Saking dekatnya seolah mampu kusentuh dengan ujung jemariku.
Dan melewatinya saja sudah cukup membahagiakan bagiku. Sama membahagiakannya seperti ketika kujumpa sosok  nyatamu. Satu hal yang membuatku tak bisa berhenti tersenyum. Di tempat itu aku suka melakukan hal-hal apa saja.
Siang itu sebuah pesan masuk ke ponselku. “Hei, aku sedang berada di kotamu,” katamu.
“Oya,” kataku mengkonfirmasi. Singkat. Padahal bahagia bukan main.
“Mari bertemu,” katamu. Sebuah emoticon senyum mengakhiri pesanmu kali ini. Dan kau tahu bagaimana ekspresiku kala itu? Luar biasa. Aku lupa kapan terakhir kali merasa sebahagia itu.
Kita berbincang tentang apa-apa saja. Meski awalnya canggung, aku bisa memulainya dengan baik. Tidak begitu buruk, meski tanpa persiapan.
Aku tidak ingin terlihat gugup di depanmu. Semampu yang kubisa, aku menyembunyikan perasaan gugup darimu. Kadang waktu aku mengetuk-ngetuk ujung meja dengan jemariku sendiri. Sembari mencari-cari topik pembicaraan apa lagi yang harus aku mulai ketika kau mengakhiri jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku.
Suatu waktu, mata kita bertemu. Cepat-cepat aku mengalihkan pandangan, ke gelas minuman yang kau pesan: tetesan-tetasan cairan es yang mengembun mulai membasahi bagian luar gelas itu. Kau tahu, cuaca panas siang itu tak pernah sesejuk yang kurasa. Bagai es yang mendinginkan gelas, hatiku menyejukan perasaan lainnya. Menjalar ke seluruh tubuh. Menciptakan apa-apa saja yang  baik dariku, hingga berakhir menjadi selengkung senyum di bibirku.
Beberapa detik kita diam. Kau mengalihkan pandangan ke arah lain, aku mengalihkan pandangan ke arah lainnya juga: Sebongkah es membeku dalam pikiran kita masing-masing.
Suatu waktu, entah siapa yang memulai topik pembicaraan, aku tidak begitu mengingatnya. Kita mulai membuka pembicaraan: mencairkan es dalam pikiran kita.
Aku suka topik-topik pembicaraan kita. Apa-apa saja. kau menceritakan tentang betapa menyenangkannya kuliah di negeri seberang. Tentang asrama dan kampus yang tidak begitu jauh dan kau menempuhnya dengan berjalan kaki. Meski dekat, cukup membuat kakimu pegal; katamu. Juga tentang beberapa kebijakan kampus yang ternyata tidak jauh berbeda dengan kampusku. Sesekali aku menanggapinya dengan bercanda. Dan jujur saja, baru kali ini aku serius dalam bercanda. Benar-benar serius untuk terdengar lucu. Kemudian kau menanggapinya dengan sebuah senyum. Sebuah gingsul menyembul. Manis sekali.
Barangkali diantara pembicaraan-pembicaraan kita siang itu, topik paling seru adalah pembicaraan tentang buku. Kau bercerita tentang sebuah buku yang katamu paling berkesan, dan entah kebetulan apalagi yang mempertemukan kita, buku itu juga buku favoritku. Maka berkelanalah kita pada kisah-kisah dalam cerita buku itu. Kita mendiskusikannya dengan serius. Dan aku selalu suka dengan caramu menceritakan sesuatu, meski tidak selalu mengerti, aku bahagia saja. Kemudian pada akhir cerita kita selalu mengakhirinya dengan sebuah candaan-candaan kecil. Seandainya cerita itu benar-benar ada dan kita menjalaninya, mungkin akan membahagian ya, katamu. Aku mengangguk mengkonfirmasi.
“Mungkin ini kali terakhirku berkunjung ke kota ini,” katamu memotong topik pembicaraan kita. Aku tidak menjawab. Menunggu kau melanjutkan cerita lainnya.
“Aku akan pindah ke kota seberang. Ayahku bertugas disana, kami sekeluarga akan pindah.” Katamu dengan wajah sedih. Aku tahu ini pasti berat untukmu, meninggalkan kota tempat kau lahir dan dibesarkan. Namun, tahu kah engkau, ada yang lebih bersedih dibanding dirimu. Ya, akulah orangnya. Tak sepatah kata pun mampu kuucapkan.
Aku sedih. Tentu saja! ini akan menjadi pertemuan kita yang pertama sekaligus yang terakhir kali. Mengapa sesuatu yang membahagiakan selalu berlangsung sangat singkat? Mengapa kebahagian dan kehidupan seringkali tidak berpihak kepada kita?  Aku tidak ingin menangis di depanmu. Kau tahu, menangis bukan cara laki-laki tangguh untuk bersedih. Dan kau tahu, saat itu aku menangis, meski dalam hati.
Aku tersenyum menanggapinya. Bukan untuk menguatkanmu. Tapi menguatkan hatiku sendiri. Tidak apa-apa, barangkali jalan memang menuntun kita pada sebuah peristiwa semacam ini. Lagipula aku yakin, takdir akan mempermukan kita pada keadaan bahagia lainnya.
Dan kelak, kita tidak akan menghitung-hitung lagi rindu siapa yang paling banyak mengetuk pintu langit dalam bentuk doa-doa.
Selamat berbahagia. Semoga kita berjumpa lagi. Tentu saja!
:Nyatanya standar bahagiaku hanyalah sesederhana itu. Sekedar melihat dan mengingat hal-hal kecil tentangmu. Mengulang-ulang rekaman memori yang kupunya tentangmu. Ya. Begitu saja sudah membahagiakanku. Cukup membahagiakan!

2 comments:

Cara Pemupukan Timun said...

semoga berbahagia, kamu yang disana T_T

SENJA said...

Duuh, dalem banget. Haha